Jaro Tanggungan ke-12 Serahkan Laksa sebagai Siloka Seba, Bupati Lebak Tekankan Pelestarian Alam

Rombongan masyarakat Suku Baduy berjalan kaki dari wilayah adat menuju pusat pemerintahan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus mempererat silaturahmi.

WhatsApp Image 2026 04 24 at 22.56.33

HDR News TV, Lebak – Tradisi Seba Baduy kembali digelar dengan khidmat di Kabupaten Lebak, Jumat (24 April 2026). Rangkaian prosesi berlangsung sarat makna, mempertemukan nilai adat dengan pemerintah dalam suasana penuh penghormatan.

Rombongan masyarakat Suku Baduy berjalan kaki dari wilayah adat menuju pusat pemerintahan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi sekaligus mempererat silaturahmi. Dalam prosesi tersebut, warga membawa berbagai hasil bumi seperti pisang, gula aren, talas, jaat, serta laksa sebagai simbol penghormatan dan keseimbangan hidup dengan alam.

Perwakilan adat dari Jaro Tanggungan ke-12, Jaro Saija, menyampaikan amanah karuhun sekaligus menyerahkan hasil bumi sebagai bagian dari prosesi inti Seba.

Dalam momen tersebut, Jaro Saija secara simbolis menyerahkan laksa sebagai siloka (simbol) dari babawaan Seba kepada Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya atau Bapa Gede.

WhatsApp Image 2026 04 25 at 01.02.10 1 1

Penyerahan tersebut dimaknai sebagai bentuk penghormatan sekaligus penyampaian amanah masyarakat Baduy kepada pemerintah.

“Masrahkeun babawaan Seba ti Jaro Tanggungan ka-12 ka Bapa Gede,” (Memasrahkan bawaan hasil alam dari jaro Tanggungan ke 12 ke Bupati Lebak) demikian makna yang disampaikan dalam prosesi tersebut.

Selain itu, dalam rangkaian pamulang (kepulangan) Seba, Pemerintah Kabupaten Lebak juga menyerahkan bingkisan kepada masyarakat Baduy sebagai bentuk perhatian dan kebersamaan.

“Masrahkeun ka dedeuh dina pamulang Seba, bingkisan ti Kabupaten Lebak ka dulur-dulur ti Baduy,” menjadi simbol hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat adat.

Dalam penyampaiannya, Jaro Saija menegaskan pentingnya menjaga adat dan tidak menyimpang dari pikukuh karuhun.
“Di ayana kaharep, tong aya hal-hal anu nyimpang tina adat jeung pikukuh karuhun,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan.

“Cai téh kahirupan. Eta teu meunang digolohan, teu meunang dikotoran. Saha jalema nu teu ngabutuhkeun cai bersih,” tegasnya.

Ia menitipkan pesan kepada pemerintah agar pengelolaan lingkungan, khususnya limbah, dapat dijaga dengan baik.

“Urang nitip, limbah-limbah ulah dibuang ka walungan sembarangan. Masing-masing kudu dipiara supaya jadi cai bersih deui,” lanjutnya.

Sementara itu, Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya atau Bapa Gede, menegaskan bahwa Seba Baduy bukan sekadar seremoni, tetapi mengandung nilai penting tentang pelestarian alam dan warisan leluhur.

“Warisan leluhur ini bukan hanya budaya, tetapi juga nilai kehidupan. Selain alam yang dititipkan oleh Tuhan, kita juga harus menjaganya sebagai inspirasi untuk masa kini dan masa depan,” ujarnya.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional wayang golek yang menghibur warga Suku Baduy serta para tamu undangan yang hadir.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan kembalinya rombongan masyarakat Baduy ke wilayah adat setelah seluruh amanah disampaikan kepada pemerintah.

“Bersama ini, rangkaian Seba dinyatakan selesai dan rombongan kembali ke wilayah adat. Insya Allah menjadi barokah bagi kita semua,” tutup Jaro Saija.

HDR NEWS TV
HDR NEWS TV
Articles: 1141